Keutamaan Penghafal Al-Qur'an ( Ahlul Qur’an )


Keutamaan Penghafal Al-Qur'an ( Ahlul Qur’an )


Sesungguhnya menghafal Al-Qur’an itu adalah ibadah, dimana pelakunya mengharapkan wajah dan pahala Allah di akhirat. Tanpa niatan ini, dia tidak akan mendapatkan pahala bahkan akan disiksa karena memalingkan ibadah ini ke selain Allah Azza Wajalla.

Adapun diantara keutamaan penghafal Al-Qur’an / Ahlul Qur’an adalah sebagai berikut :

1. Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

- [عن عبدالله بن مسعود:] من قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ والحسنةُ بعشرِ أمثالِها لا أقولُ {ألم} حرفٌ ولكن ألفٌ حرفٌ ولامٌ حرفٌ وميمٌ حرفٌ
المنذري (٦٥٦ هـ)، الترغيب والترهيب ٢/٢٩٦    [إسناده صحيح أو حسن أو ما قاربهما]    أخرجه الترمذي (٢٩١٠) واللفظ له، وأبو نعيم في «حلية الأولياء» (٦/٢٦٣)، والبيهقي في «شعب الإيمان» (١٩٨٣) باختلاف يسير.    شرح رواية أخرى
[لفظه نفس لفظ الحديث ٨ مع اختلاف في الحركات أو علامات الترقيم]

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif  laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (     )


2. Diampuni Dosanya Dan Tidak Disiksa Oleh Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
- عن أبي أُمامةَ:    وعى القرآنَ
ابن حجر العسقلاني (٨٥٢ هـ)، فتح الباري لابن حجر ٨/٦٩٦    بإسناد صحيح

“ Bacalah Al-Qur’an karena Allah tidak akan meyiksa hati yang berisi ( hafal ) Al-Qur’an “ 


3. Mendapat Syafaat ( Pertolongan Dari Allah )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ، - وَهُوَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ - حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ، - يَعْنِي ابْنَ سَلاَّمٍ - عَنْ زَيْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلاَّمٍ، يَقُولُ حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ، الْبَاهِلِيُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ مُعَاوِيَةُ بَلَغَنِي أَنَّ الْبَطَلَةَ السَّحَرَةُ
( رواه مسلم:804)

“ Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat nanti ia ( Al-Qur’an ) akan menjadi pemberi syafaat bagi para pembacanya ( HR. Muslim No. 804 )


4. Ahlu Al-Qur’an, Merekalah Golongan Terbaik 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وعن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏ "‏خيركم من تعلم القرآن وعلمه‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏

“ Sebaik baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya ( HR. Bukhari )


5. Dikumpulkan Bersama Malaikat 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

- [عن عائشة أم المؤمنين:] الْماهِرُ بالقُرْآنِ مع السَّفَرَةِ الكِرامِ البَرَرَةِ، والذي يَقْرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وهو عليه شاقٌّ، له أجْرانِ. [وفي رواية]: والذي يَقْرَأُ وهو يَشْتَدُّ عليه له أجْرانِ.
مسلم (٢٦١ هـ)، صحيح مسلم ٧٩٨    [صحيح]    أخرجه البخاري (٤٩٣٧)، ومسلم (٧٩٨) واللفظ له    شرح رواية أخرى

“ Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan di kumpulkan bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti ( taat ), Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan ia masih terbata bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia kan mendapat 2 pahala ( )


6. Allah Meninggikan Derajat Ahlu Al-Qur’an 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه‏:‏ أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ‏:‏ ‏ "‏ إن الله يرفع بهذا الكتاب أقوامًا ويضع به آخرين‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏

“ Sesungguhnya Allah akan meninggikan ( kedudukan ) beberapa kaum dengan Al-Qur’an dan Allah akan merendahkan ( kedudukan ) kaum yang lain dengan Al-Qur’an “ ( HR. Muslim )



7. Menjadi Keluarga Allah Di Atas Bumi 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ أَبُو بِشْرٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بُدَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏"‏ إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ ‏"‏ ‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ ‏"‏ هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ ‏"‏ وصححه الألباني في "صحيح ابن ماجة

Sesungguhnya Allah memiliki orang khusus (Ahliyyin) dari kalangan manusia. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?" Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlu Al-Qur’an, Ahlullah dan orang khusus-Nya.” Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Manawi rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah para penghafal Al-Qur’an yang mengamalkannya, mereka itu adalah kekasih Allah yang dikhususkan dari kalangan manusia. Mereka dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan kepada mereka sepeti penamaan Baitullah.
Al-Hakim At-Tirmizi berkata, “Sesungguhnya keutamaan ini berlaku bagi para pembaca yang telah membersihkan hatinya dari sifat lalai dan menghilangkan dosa pada dirinya. Tidak termasuk orang khususnya kecuali bagi orang yang membersihkan dirinya dari dosa yang tampak maupun tersembunyi, lalu menghiasi dirinya dengan ketaatan. Maka ketika itu, dia termasuk orang khusus Allah.” (Faidhul Qadir, 3/87)
Tidak cukup sekedar membaca (saja) agar termasuk arang khusus Al-Qur’an. Dia harus mengamalkan dan menghormati hukum-hukumnya, serta berakhlak dengannya.
Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafizhahullah– menjelaskan :
“Yang dimaksud ahlul qur’an  bukan orang yang sekedar menghafal dan membacanya saja. Ahlul qur’an (sejati) adalah yang mengamalkannya, meskipun ia belum hafal Qur’an. Orang-orang yang mengamalkan Al-Qur’an; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan Al-Qur’an, mereka itulah yang dimaksud ahlul qur’an, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba Allah yang paling istimewa.
( Syarah Risalah Al-‘Ubudiyyah halaman: 64. Dar Ibnul Jauzi, Cetakan pertama; th 1435 H )


( Ditulis oleh Satrio W, Mahasantri Ma'had Aly Makkah 2019 )